telah habis malam
dimangsa sepi
berganti pagi yang sama
seperti kemarin
dingin dan hampa
masih sama pula
yang aku dapati
matahari,
elegi,
dan kau
-kay-
telah habis malam
dimangsa sepi
berganti pagi yang sama
seperti kemarin
dingin dan hampa
masih sama pula
yang aku dapati
matahari,
elegi,
dan kau
-kay-
secangkir kopi ini
mengingatkan aku padamu
pada malam yang kita
lewati bersama
secangkir kopi ini
mengingatkan aku tentangmu
tentang keluhkesah yang kita
teriakkan bersama
secangkir kopi ini
mengingatkan aku pada
secangkir kopi yang dulu
kebanyakan gula
pada kenangan manis kita
yang tidak mudah sirna
secangkir kopi ini
mengingatkan aku pada
secangkir kopi yang lupa
ku beri gula
pada perpisahan kita
yang semakin pahit terasa
secangkir kopi ini
menyadarkan aku
bahwa menjadi tidak mudah
menghabiskannya seorang diri
tanpa kamu
resahmu tertinggal
pada sprei yang kusut
pada peluh yang mengering
di bantal
pada airmata yang tertahan
hasratku tersimpan
pada dinding kamar yang lembab
pada letih yang bertumpuk
di kardus buku
pada katakata yang terbungkam
-Kay-
tibatiba aku kangen kamu
senyummu yang membuatku selalu ingin
mengokang waktu
melesat ke masa yang tak pernah
habis bersamamu
ah, tubuh sialan ini masih menyanderaku
jadi masihkah kau mau menungguku?
kamulah semesta yang
menggugah pesona
kamulah diksi yang
tak ku temukan pada
kamus segala bahasa
kamu yang tak tergantikan
oleh morpheus atau siapapun
di dunia!
sebab kamulah ruh yang dikirim
untuk menemani, menjaga, dan mencintaiku
agar aku tak terbaring sepi
-kay-